Skip to main content
Su
Suasana Konferensi Pers Terkait Simpang Siurnya Informasi Penanganan Medis Korban Laka Lantas Bengkulu Selatan yang Meninggal Dunia

Tanpa Penolakan, RSMY Lakukan Perawatan Intensif Korban Laka Bengkulu Selatan

Bengkulu, TuntasOnline.com - Terkait simpang siurnya informasi mengenai penanganan medis dari korban laka lantas tunggal di Perbatasan Bengkulu Selatan-Seluma, Tim Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Bengkulu dan Rumah Sakit M Yunus menggelar Konferensi Pers dan memberikan klarifikasi bertempat di Ruangan Rafflesia RSMY pada Rabu (03/06/2020).


Tampak hadir dalam konferensi pers ini Jubir Gugas Covid-19 Provinsi Bengkulu yang juga Kadis Kominfo Jaduliwan, Direktur RSMY Bengkulu dr Zulkimaulub Rintonga, Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan RSMY Bengkulu dr Ismir Fahri serta Perawat RSMY Hermawan.


Sebelumnya cukup ramai pemberitaan mengenai korban laka lantas asal Bengkulu Selatan ini lantaran diketahui ditolak 4 Rumah Sakit hingga akhirnya mendapatkan perawatan di RSMY hingga menghembuskan nafas terakhirnya.


Dalam penjelasannya, Direktur RSMY Bengkulu dr Zulkimaulub Rintonga menyampaikan bahwa pihaknya pernah membatasi pelayanan namun ada pengecualian pembatasan pelayanan, yakni pelayanan khusus yang memang tidak ada di rumah sakit lain tetap dibuka seperti Poli Bedah Onkologi, Saraf, Patologi Anatomi, Thalasemia dan Jantung. Zulki juga menambahkan bahwasannya pembatasan pelayanan tersebut mulai 11-27 Mei lantaran adanya rekan medis yang terpapar Covid-19.


"Saya cukup prihatin dengan kondisi yang terjadi kemaren, tentunya nanti Wadir Pelayanan akan menyampaikan tentang kronologis yang terjadi di Rumah Sakit kita. Namun rekan-rekan media masih ingat, tanggal 11 bulan 5 2020 ada pemberitahuan kita terhadap Rumah Sakit M Yunus melakukan pembatasan pelayanan karena kita fokus untuk Covid terkecuali, itu sudah berulang kali, Poli Bedah Onkologi, Poli Bedah Saraf, Poli Patologi Anatomi, Poli Thalasemia, dan Jantung," ujarnya.


"Itu sudah kita sampaikan berulang kali, karena pelayanannya tidak ada di tempat lain tapi ada di RS M Yunus maka oleh karena itu seluruh masyarakat harusnya merujuk pelayanan syaraf harus menuju M Yunus. Surat Edaran kami juga dibatasi tanggalnya, berlaku mulai tanggal 11 sampai 27 mei karena kita melakukan isolasi karena ada rekan kami yang terpapar Covid sebanyak 11 orang," tambahnya.


Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan RSMY Bengkulu dr Ismir Fahri menyampaikan sedikit gambaran bagaimana kronologis pelayanan pada saat penanganan, diantaranya :


- Pasien IGD pukul 07.30 menggunakan ambulans dari salah satu rumah sakit swasta di Bengkulu Selatan,


- Pada saat itu dilaporkan korban cidera kepala berat dan juga mengalami kehabisan oksigen dirujuk ke M Yunus setelah dirujuk ke beberapa rumah sakit di Kota Bengkulu, 


- Secara prinsip dilakukan penanganan dan masuk ke IGD dan mendapatkan perawatan intensif dengan keluhan kehilangan kesadaran dan sempat kejang-kejang. Selanjutnya korban dilakukan pemeriksaan fisik awal di mana juga dilakukan pemeriksaan tingkat kesadaran dengan indikator 3-15 dan hasilnya pun menunjukkan 3 atau paling terendah untuk tingkat kesadaran seseorang,


- Menyikapi ini pihak RSMY berupaya melakukan upaya maksimal untuk korban dengan langkah-langkah sesuai prosedur, setelah melakukan penanganan pihak ahli syarat dan terkait pun berunding untuk pemasangan alat bantu pernapasan yang mau tak mau harus disetujui pihak keluarga,


- Setelah pihak keluarga menyetujui, pihak medis pun langsung melakukan pemasangan alat bantu nafas namun korban pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sesuai dengan kronologis yang disampaikan, Kita dari M Yunus tidak ada penolakkan," tegas dr Ismir Fahri.


Disisi berbeda, Perawat RS M Yunus, Hermawan menyampaikan sedikit penjelasan dan kronologis penanganan yang dirinya lakukan guna memberikan pertolongan kepada Korban Laka Lantas yang di rujuk ke RS M Yunus.


“Dank Fe Assalamualaikum wr.wb. Perkenalkan, nama Saya Hermawan, saya Perawat RS. M. Yunus Bengkulu, perawat yang merawat almarhum sampai almarhum dipanggil yang maha kuasa kemarin. Sebelumnya saya turut berduka cita atas meninggalnya Almarhum. Almarhum meninggal dengan usaha terbaik dari keluarganya dan usaha terbaik yang bisa kami kerjakan, semoga Almarhum meninggal dengan tenang dan diterima di sisi Allah SWT.” Jelasnya.

 

“Saya tidak perlu meluruskan cerita versi Dank Fe, disini karena setiap orang punya versi cerita yang berbeda, pun saya juga punya versi cerita yang saya alami kemarin. Saya datang Dinas Pagi Pukul 8, pasien Emergency waktu itu hanya almarhum, yang saya baca di laporan Pasien dirujuk tanpa melewati Sisrute (saya gak tahu ceritanya sudah muter-muter seperti itu  - Rujukan Bedah Syaraf itu Hanya M. Yunus, kenapa RS. AS syifa memilih sisrute ke Bhayangkara ya?), kondisi kesadaran pasien sudah di batas paling minimal.,” tambahnya.

 

Meski RS M Yunus difokuskan penanganan Covid-19, pihaknya tetap berupaya maksimal dalam menangani Pasien Laka Lantas pada saat itu demi menunjukkan bakti sebagai tenaga kesehatan kepada masyarakat.

 

“Saya dan rekan-rekan memindahkan ke ruang resusitasi. karena suhu tubuh pasien tinggi, kami memasukkan obat penurun panas, memasang Monitor Tanda Tanda Vital dan memberi Oksigen tekanan tinggi. Setelah itu saya memasang selang kencing pasien untuk memantau keseimbangan cairan, saya agak heran pasien datang dengan kesadaran paling rendah tapi tidak terpasang selang kencing itu agak aneh, karena kita tidak bisa memantau keseimbangan cairan, dan dalam penaganan pasien gawat, keseimbangan cairan itu salah satu yang paling krusial,” paparnya.

 

 

“Sejak pasien masuk, pasien sudah terkonsulkan ke bagian Bedah Syaraf, order bedah Syaraf Jelas Perbaiki jalan nafas Pasien dengan pemasangan alat bantu nafas, kemudian lakukan pemeriksaan CT Scan dll, karena kondisi pasien sudah tidak transportable jika tidak dibantu alat bantu nafas. Kemudian dilakukan Informed Concent (penjelasan kondisi pasien) oleh dokter, fokus penjelasan waktu itu

1. Kondisi Pasien yang kritis dan sewaktu-waktu bisa terjadi gagal nafas,

 2. Persetujuan pemasangan alat bantu nafas,” imbuhnya.

 

Selanjutnya untuk menunggu pemasangan alat bantu nafas pihak rumah sakit meminta persetujuan keluarga korban laka lantas.

 

“Lebih dari setengah Jam keluarga belum memberikan keputusan apakah setuju atau menolak pemasangan alat bantu nafas. Setelah cukup lama tidak ada keputusan saya panggil lagi keluarga untuk berkumpul, saat itu yang saya ingat ada 3 orang Ibu pasien, dan 2 orang laki², poin yang saya jelaskan masih sama

1. Kondisi pasien kritis yang bisa gagal nafas sewaktu²

2. Persetujuan pemasangan alat bantu nafas,” jelasnya.

 

”Waktu itu keluarga masih belum langsung memutuskan salah satu alasan yang dikemukakan keluarganya pasien tidak sadar karena efek minuman dan karena ada sumbatan darah di hidung. Saya pun menjelaskan untuk efek minuman dengan rentang 9 jam itu harusnya pasien sudah bangun jadi tidak sadarnya bukan karena itu, tentang darah di dalam hidung itu bukan menjadi salah satu hambatan karena pasien sejak masuk sudah terpasang OPA dan bernafas murni lewat mulut,” tambahnya.

 

Setelah beberapa saat menunggu persetujuan pemasangan alat bantu nafas, akhirnya Ibu Korban menyetujui demi kebaikan pasien laka lantas.

 

“Akhirnya ibu pasien yang pertama mengijinkan pemasangan alat bantu Nafas, beliau berkata "kerjakanlah jika itu yang terbaik untuk pasien" pada kondisi itu saya melihat 2 orang lainya masih ragu dan ibu pasienlah yang meyakinkan. Sesuai prosedur keluarga menanda tangani surat persetujuan, baru bisa kami tindak lanjut, kami konsultasikan ke bagian spesialis, akhirnya diputuskan bahwa akan dipasang alat bantu nafas diruang ICU. Kemudian saya menjelaskan ulang lagi ke keluarga pasien (Laki²), bahwa pasien akan diambil darah dan dipindahkan keruang ICU untuk dipasang Alat bantu Nafas,” jelasnya.

 

Setelah mendapatkan persetujuan pemasangan alat bantu nafas, pihak medis langsung melakukan upaya maksimal demi membantu korban laka lantas namun Tuhan yang Maha Esa berkehendak lain. Sang Ibu Korban pun mengucapkan terima kasih atas penanganan dari RS M Yunus meski Korban telah menghembuskan nafas terakhirnya.

 

“Tapi ala kulihal setelah saya mengambil sampel darah untuk pemeriksaan analisa Gas darah, yang ditakutkan benar² terjadi pasien mengalami gagal Nafas, kami membantu mensuport oksigen ke pasien sesuai kemampuan dan kapasitas kami, setengah jam lebih kami berusaha mengembalikan fungsi nafas pasien, tapi Allah berkehendak lain Beliau meninggal dunia, saya ingat dinyatakan pukul 10.07. Semua prosedur berjalan wajar, tidak ada yang tertunda, saya tidak mendengar langsung ada komplain dari keluarga kemarin secara langsung sampai saya membaca status FB ini. Bahkan di akhir saya membereskan Almarhum, sebelum saya menutup dengan Kain ke kepalanya Ibu Pasien berkata kepada kami "Terima Kasih ya nak, sudah menerima dan merawat anak kami", tutupnya. (ReTra)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size