Skip to main content
Nelayan mengeluh setelah tempat mata pencariannya di garuk kapal yang gunakan jaring pukat harimau
Nelayan mengeluh setelah tempat mata pencariannya di garuk kapal yang gunakan jaring pukat harimau

Nelayan Tradisional Mengeluh Dengan Maraknya Aktifitas Kapal Pukat Harimau

Karawang, Tuntasonline.com - Para nelayan tradisional di pesisir utara Karawang, khususnya Desa Tambaksari Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang, mengeluh karena banyaknya kapal (Trol) yang menggunakan jaring pukat harimau beroperasi di perairan Karawang, Selasa (08/05/18),

Dengan adanya kejadian tersebut, Jasan (40) nelayan setempat, waktu di temui Wartawan Tuntasonline.com, Selasa (08/05/18), mengatakan bahwa dirinya dan para nelayan khususnya di Desa Tambaksari Kecamatan Tirtajaya sangat geram dengan keberadaan kapal - kapal trol gunakan jaring pukat harimau.

"Hal tersebut jelas sangat merugikan nelayan tradisional karena untuk pendapatan hingga turun drastis jika kapal - kapal itu beroperasi. "Jangankan dapat puluhan kilo, untuk mendapatkan ikan kiloan aja saat ini sulit sekali,”ungkapnya.

Selanjutnya menurut Jasan, ironisnya aktivitas kapal - kapal pukat harimau (Trawl) tersebut seperti tidak tersentuh oleh hukum dan bebas menangkap ikan di perairan Karawang. Padahal jelas-jelas penggunaan pukat harimau tersebut dilarang oleh pemerintah, karena dapat merusak ekosistem laut.

“Perbuatan tersebut jelas sangat merusak, karena ikan - ikan kecilpun habis ditangkap, dan juga terumbu karang pasti rusak terkena jaringnya,”imbuhnya.

Hampir serupa dikatakan Acing (35) nelayan lainnya, saat ini keberadaan kapal - kapal tersebut sudah sangat meresahkan nelayan tradisional. Pasalnya sepengetahuannya saat ini lebih dari 30 kapal trawl beroperasi di perairan tempatnya mencari ikan.

“Jika terus dibiarkan tidak ada tindakan dari pihak terkait, maka tidak tahu nasib kami kedepannya, apakah masih bisa hidup dari hasil nelayan, karena pendapatan kami terus menurun,”kata Acing.

Sementara itu, Kepala Desa Tambaksari sekaligus Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat, Eji Ruswandi, membenarkan jika saat ini para nelayan mengalami kesulitan mendapat ikan paska beroperasinya kapal - kapal trawl disana. Menurutnya saat ini nasib lebih dari 300 nelayan lokal terancam karena kesulitan mendapat ikan.

Lebih lanjut dia mengatakan jika pemerintah maupun Polairud (Polisi Air dan Udara) mau tegas untuk membasmi kapal yang menggunakan jaringpukat harimau, bukan sesuatu yang sulit. Pasalnya lokasi beroperasi sudah jelas dan mudah sekali diintai untuk penangkapan. Kapal - kapal pukat harimau marak di perairannya, padahal lokasi itu areal penangkapan nelayan tradisional.

“Sebenarnya kami sudah berkali - kali melaporkan kasus ini baik ke dinas maupun ke Polairud, tetapi sampai saat ini belum juga ada tindakan,” keluhnya.
Dia menambahkan, kapal pukat “trawl” beroperasi sekitar dua mil dari bibir pantai terdekat, padahal jarak tersebut merupakan wilayah tangkap nelayan tradisional. Dengan masuknya kapal pukat sebabkan nelayan tradisional kerap tidak membawa ikan pulang kerumah,"ujarnya.

Disamping itu dia juga menegaskan bahwa alat tangkap Pukat Hela dan Pukat Tarik (seine Nets) yang dilarang pemerintah pengoperasiannya berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 masih tetap dipakai oleh kapal Pukat Harimau atau pukat hela.

“Kami berharap petugas keamanan di laut, yakni TNI-AL, Polairud, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP, dan institusi terkait lainnya segera menertibkan kapal - kapal tersebut karena mengganggu nelayan lokal,”pungkasnya.(Sule)

Tags

Facebook comments

Adsense Google Auto Size