Skip to main content
Mengulik Makna Upacara Religi Tabot Masyarakat Bengkulu
Mengulik Makna Upacara Religi Tabot Masyarakat Bengkulu

Mengulik Makna Upacara Religi Tabot Masyarakat Bengkulu

Masyarakat Indonesia memiliki ragam tradisi untuk mengenang atau menghelat suatu perayaan. Sebut saja tradisi Dugderan milik warga Semarang, tradisi Tawur Nasi khas warga Rembang, juga tradisi Baombai di Sumatera Barat.

Tradisi unik pun dimiliki masyarakat Bengkulu. Adalah Upacara Tabot yang merupakan tradisi untuk mengenang peristiwa tragis kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Abi Thalib.

Istilah Tabot berasal dari bahasa Arab, Tabut, yang berarti kotak kayu atau peti.Dilansir dari bengkuluprov.go.id pelaksanaan Upacara Tabot memiliki tiga nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu nilai agama, sejarah dan sosial.

Nilai agama dalam upacara tersebut dilihat dari, proses mengambil tanah mengingatkan manusia akan asal penciptanya. Terlepas dari adanya pandangan bahwa ritual ini mengandung unsur penyimpangan dari akidah, seperti penggunaan mantera dalam prosesnya. Namun esensinya adalah untuk menyadarkan masyarakat, bahwa keberagaman tidak bisa dilepaskan dari nilai budaya setempat.

Untuk nilai sejarah yang terkandung dalam budaya tabot adalah, sebagai manifestasi kecintaan dan untuk mengenang wafatnya Husein bin Abi Thalib. Adapun nilai sosial yang terkandung di dalamnya, antara lain mengingatkan manusia akan praktik penghalalan segala cara untuk menuju puncak kekuasaan, serta simbolisasi dari sebuah keprihatinan sosial.

Sebenarnya ada banyak nilai kebijaksanaan, yang bisa dipelajari dan dijadikan landasan dari Upacara Tabot. Namun bila tak disikapi dengan bijaksana, upacara ini hanya akan menjadi festival budaya yang kehilangan makna dasarnya. (dwq)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size