Skip to main content
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Win Rizal
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Win Rizal

Kota Bengkulu Inflasi 0,22%, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Jadi Penyumbang Terbesar

Bengkulu, Tuntasonline.com - Dibulan Agustus 2020 inflasi di kota Bengkulu sebesar 0,22 persen. Hal ini terjadi akibat adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks harga kelompok pengeluaran. Berdasarkan pemantauan BPS di 90 kota di Indonesia, 37 kota mengalami inflasi dan 53 kota mengalami deflasi. 

Baca Juga :  Pemprov Bengkulu dan DJPRPT-DPPR Komitmen Atasi Pelanggaran Pemanfaatan Ruang


Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Win Rizal mengatakan merosotnya nilai uang atas naiknya permintaan harga barang (Inflasi) di Kota Bengkulu pada Agustus 2020 sebesar 0,22 persen. Berdasarkan pemantauan BPS di 90 kota di Indonesia, 37 kota mengalami inflasi dan 53 kota mengalami deflasi. 


"Inflasi tertinggi terjadi di Meulaboh, Aceh sebesar 0,88 persen dan inflasi terendah di Batam, Kediri dan Kotamobagu sebesar 0,02 persen," kata Win.


Sedangkan deflasi tertinggi, lanjutnya terjadi di Kupang sebesar 0,92 persen dan terendah terjadi di Sibolga, Tembilahan, Bekasi dan Banyuwangi sebesar  0,01persen. Inflasi Kota Bengkulu bulan Agustus 2020, katanya, terjadi akibat adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks harga kelompok pengeluaran. 


"Komoditas pangan pengaruhi inflasi hingga 0,22 persen andil tertinggi dipengaruhi oleh harga daging ayam ras yang melonjak dengan sumbangan inflasi mencapai 0,10 persen," kata Win.


Kemudian, untuk Kota Bengkulu sendiri kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,17 persen diikut kelompok transportasi sebesar 1,08 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,82 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,57 persen dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,33 persen. 


Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,69 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,63 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,30 persen dan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen. 


"Justru budaya bersepeda era normal baru masa COVID-19 pengaruhi angka deflasi senilai 0,18 persen," kata Win. 


"Sementara kelompok pengeluaran yang stabil adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, kelompok penyediaan makanan serta kelompok minuman/restoran," tambahnya.

Baca Juga :  Pemprov dan BNPT Edukasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme


Lebih lanjut, dengan inflasi sebesar 0,22 persen di bulan Agustus 2020 ini, maka besarnya inflasi tahun kalender atau laju inflasi sebesar 0,30 persen, dan inflasi tahunan tercatat sebesar 0,70 persen. (Panji)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size