Skip to main content
Cik Ben
Cik Ben

Politik Kambing Bobok

By Cik Ben

Pernah  sanak dengar istilah politk kambing bobok? Jangan bilang pernah. Baru sekali inilah istilah ini dimunculkan, mengingat ada kesamaan politik jelang Pilcagub, khususnya di daerah kita.
Politik kambing bobok hanya merupakan analogi. Bagaimana seekor kambing jantan, saat ‘mengepek’  betina, pasangannya saat ingin mengawininya. Yang menarik adalah teriakannya. “mboooook”, teriak kambing jantan. Jadi jelas, kambing bobok itu bukan artinya kambing tidur. Melainkan karena teriakannya dia dijuluki.
Pertanyaanya adalah, apa  yang dilakukan kambing bobok usai mememnuhi keinginannya? Kambing bobok akan terus berteman dengan  pasangannya, meskipun saat ada betina yang lain akan diperlakukan hal yang sama. Seolah-olah dialah sosok pemberi kenikmatan dan kebahagiaan.
Dikatakan kambing bobok, cirinya sudah berumur. Punya tanduk dan jenggotnya sudah panjang. Lantas apa penjabarannya dengan istilah politik?  Sama dengan istilah politik belahbambu. Satu diinjak, satu diangkat. Sama dengan politik dagang sapi, dimana politik berbagi kekuasaan. Maka politik kambing bobok, merupakan pra mencari simpati.  Dimana para calon’ mengepek’ massa, sembari seolah-olah memberi kenikmatan dan kebahagiaan. Padahal  yang enak itu hanya Si Calon. Itu terbukti dengan teriakannya saat kebutuhannya tercapai.
Dalam politik kambing bobok, tidak ada kebersamaan, yang ada monopoli. Bila ada kambing lain yang mencoba mendekat, maka akan di hantam dengan tanduknya. Prinsip yang dianutnya adalah, “massa mu adalah massa ku. Massa ku pacakla aku”. 
Calon penganut politik kambing bobok ini sifatnya, kalau berbicara pelan, terbatah-batah, durasinyo lama, mengalun, “nyelesaikan  jugo idak. Tapi enyo endak menang sorang”.  Ini merupakan tipikal calon, yang kalau di berikan kepercayaan, dia tidak amanat.  Istilah Bengkulunya, “Cik Tau Tapi Cik Slow. Dapek Selip dikit, Cik Pecci jugo.   
Untuk antisipasi aksi politik kambing bobok ini, hanya dengan mengkebirinya. Panggil dokter hewan, lakukan pengembirian. Ingat,  kambin boboknya yang  di kebiri, bukan dokter hewannya. 


Wartawan tinggal di Bengkulu

Facebook comments

Adsense Google Auto Size