Skip to main content
T
Tampak Mahasiswa dan Aktivis Lingkungan Membentangkan Spanduk

Peringati Hari Bumi Sedunia, Mari Selamatkan Terumbu Karang Bengkulu

Bengkulu, Tuntasonline.com  —  Peringatan Hari Bumi pada 22 April di Bengkulu mengangkat isu terumbu karang yang akan hancur jika PLTU batu bara Teluk Sepang beroperasi. Sejumlah aktivis mahasiswa dan aktivis lingkungan serta seniman yang bergabung dalam "Koalisi Langit Biru" menyerukan pemerintah untuk menghentikan proyek PLTU batu bara Teluk Sepang. 

Dengan membentang spanduk berukuran 6x10 meter dengan seruan "Selamatkan Terumbu Karang Bengkulu dari Limbah PLTU Batubara, Tutup PLTU Teluk Sepang". Aksi ini dilakukan pada Selasa,23 April 2019.

Pembentangan spanduk raksasa di tepi pantai dekat tapak proyek PLTU batu bara tepat di atas saluran pembuangan air bahang / limbah yang lokasinya tidak jauh dari lentera hijau.

Bagaimana air bahang akan merusak terumbu karang dan ekosisten perairan sekitar pembuangan limbah? Untuk menghasilkan setrum atau listrik, PLTU harus membakar batu bara sebanyak 113,85 ton/jam atau 2.732,4 ton/hari dan menghasilkan abu 39,85 ton/jam.

Untuk merebus air guna menghasilkan uap pemutar turbin, PLTU akan membuang air bahang yakni air bersuhu 40 derajat Celsius yang langsung dibuang ke laut lepas.

Air panas dengan suhu 40 derajat dapat mengakibatkan kematian organisme laut serta menghambat metabolisme dan fotosintesis serta akan membuat terumbu karang yang berada di Teluk Sepang rusak.

Dampak lingkungan lainnya yang ditimbulkan bagi ekosistem terumbu karang yang ada di perairan laut Pulau Baii dan Teluk Sepang adalah bleaching atau pemutihan pada terumbu karang atau terumbu karang sehingga membuat terumbu karang mati.

Juru Kampanye Pesisir dan Laut Kanopi Bengkulu, Didi Mulyono mengatakan kerusakan terumbu karang dipastikan akan membuat hasil laut menurun yang otomatis mengurangi hasil tangkap nelayan. Dampak berikutnya akan diterima daratan di mana tak ada lagi terumbu karang yang berperan sebagai penghalang arus gelombang alami.

Diketahui, terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Ekosistem terumbu karang harus terjaga untuk keseimbangan laut karena untuk pertumbuhan terumbu karang dalam kurun waktu 1 tahun hanya 1 centimeter saja. Apabila terumbu karang rusak dibutuhkan waktu hingga berpuluh-puluh tahun untuk memulihkannya kembali.

Terumbu karang juga merupakan tempat atau habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya. Perairan Pulau Baii merupakan suatu kawasan dimana ekosistem terumbu karang jenis acropora branching, digitate, dan massive tumbuh.

Anggota Koalisi Langit Biru, Mitra Cipto menilai semua pihak bertanggungjawab menjaga lingkungan terutama pemerintah yang hari ini justru melanggengkan perusakan ekosistem laut Bengkulu.
 
 “Pemerintah seharusnya dapat menyelesaikan permasalahan kurangnya sumber energi listrik dengan jalan yang lebih efektif. Misalnya dengan menggunakan energi terbarukan, bukan malah menyerahkan sumber energi listrik pada pemain tambang dan sumber energi listrik yang kotor seperti PLTU," sambung anggota koalisi lainnya, Hendra Al Asad.

Sekjen Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Surya Sinabutar mengatakan bumi ini bukan milik pribadi maupun milik kelompok melainkan milik seluruh mahluk hidup. 

"Jadi mari menjaga dan merawat bumi sebagai tanggung jawab manusia yang bermoral," ucap Surya Sinabutar.(Cw1)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size