Skip to main content
Ilu
Ilustrasi Gantung Diri. Ist

Marak Fenomena Bunuh Diri, Ini Kata Psikolog

Bengkulu, TuntasOnline.Com - Akhir-akhir ini marak sekali praktik bunuh diri yang diduga disebabkan oleh putus cinta. Menanggapi hal tersebut, Psikolog Ainul Mardianti ungkapkan apa yang sekiranya menjadi alasan seseorang memilih untuk mengakhiri hidupnya, Rabu(5/12).

Remaja hingga orang dewasa memiliki masalah dan persoalan hidupnya masing-masing. Kendati demikian, tidak sedikit orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sebagai 'jalan pintas' menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya. Hal ini pula yang menjadi salah satu faktor utama banyaknya kasus bunuh diri dikalangan remaja.

Beberapa waktu lalu masyarakat Bengkulu terus dikejutkan dengan sejumlah kasus bunuh diri yang dilakukan remaja dengan dugaan akibat putus cinta. Ketika dimintai tanggapan terkait fenomena ini, Ainul Mardianti salah seorang psikolog yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Penjangkauan dan Pendampingan Kasus Perempuan dan Anak UPTD PPA Provinsi Bengkulu mengatakan terkadang remaja belum memiliki kesiapan dalam menghadapi persoalan hidup yang menghampirinya. Ketika ia kebingungan dan tak menemukan jalan keluar dari masalahnya, mengakhiri hidup menjadi 'jalan pintas'nya menyelesaikan masalah.

"Ada beberapa faktor pelaku bunuh diri, yang pertama mungkin dia tidak tahan dengan persoalan yang dia hadapi, akhirnya dia mengambil suatu keputusan untuk mengakhiri persoalan itu dengan cara bunuh diri," ungkapnya.

Seharusnya seseorang dapat berfikir terlebih dahulu sebelum mereka melakukan sesuatu, dan dipertimbangkan baik dan buruknya tindakan tersebut. Apabila seseorang sudah mampu menimbang mana tindakan baik dan mana tindakan buruk, kecil kemungkinan orang tersebut akan melakukan praktik bunuh diri. Karena bunuh diri didalam agama dan kepercayaan manapun jelas tidak diperbolehkan.

Pemilihan keputusan bunuh diri juga dapat disebabkan akibat kurangnya edukasi orang tua kepada anak bagaimana cara mengatasi masalah, atau mungkin saja orang tua kurang berbincang dan kurang terbuka dengan anak terkait permasalahan pribadi anak, sehingga anak tidak memiliki tempat untuk mencurahkan apa yang sedang ia rasakan.

Maraknya kasus bunuh diri disuatu daerah seharusnya menjadi perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mencari solusi dalam mencegah fenomena tersebut terus berlanjut. Ainul mengatakan pemerintah melalui dinas sosial bisa saja melakukan penyuluhan kepada remaja terkait edukasi pemecahan masalah dan bagaimana cara mengatasinya.

"Solusi terbaik adalah kita kerjasama kepada dinas terkait, itu kan remaja usia produktif tidak lepas dari dinas pendidikan, nanti bisa memberikan solusi atau informasi kepada masyarakat bahaya bunuh diri ataupun informasi-informasi yang bermanfaat, apasih permasalahannya sehingga seperti itu, nah itu yang harus kita gaung-gaungkan bahwasanya bunuh diri itu bukan salah satu solusi dalam mengakhiri semua persoalan, yang ada akan menimbulkan persoalan baru, minimal orang yang ditinggalkan merasa sedih dan kecewa, belum lagi hukum masyarakat yang secara tidak langsung mungkin menjudge bahwa bunuh diri itu disebabkan karena apa," tutup Ainul.(FRK)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size