Skip to main content
Tampak Pipa yang Keropos
Tampak Pipa yang Keropos

Pipa Line PT Pertamina EP Asset 2 Bocor, Kebun Karet Warga Banyak Mati

Pali,Tuntasonline.com - Tidak adanya perhatian Pipa Line Transfer Produksi dari Pihak PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field yang mengalami kebocoran mengakibatkan Banyak kebun Karet mati.

Pantauan media dilapangan ditemukan hampir semua Pipa Line Transfer Produksi milik PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field yang melitasi Kecamatan Abab Kabupaten PALI Sumatera Selatan (Sumsel), kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan sungguh mengkhawatirkan. Selain sudah lama tidak mendapat perawatan atau tidak pernah diganti, Pipa tersebut juga dapat digolongkan sebagai besi tua. Ditambah keberadaannya juga sudah kropos dan berkarat, serta kerap kali mengalami kebocoran yang cukup parah. 

Menurut Penuturan Warga setempat saat terlibat Wawancara dengan Awak Media mengatakan, dalam waktu satu bulan ini Pipa Line Transfer Produksi tersebut, sudah lima kali mengalami kebocoran yang diduga oleh karena mengalami korosi. Sehingga, tidak mampu menahan derasnya aliran minyak bertekanan tinggi yang dikirim dari Stasiun Lompa.

Akibatnya, banyak Kebun Karet milik Warga terkena Ceceran Minyak Mentah dan membuat Produksi Getah Karet Warga menjadi menurun. Ironisnya, tidak sedikit pula mengakibatkan Pohon Karet Warga yang mati oleh karenanya. Selain itu, Veceran Limbah Minyak Mentah berwarna Hitam Pekat tersebut, juga terbuang ke Anak Sungai dan Air Payau yang terdapat di sekitar Kebun Warga dan sangat berpotensi merusak Ekosistem Flora dan Fauna.

"Di Tengah Kebun Karet saya saja, sudah dua kali mengalami kebocoran, pekan lalu Satu (1) kali tapi hanya keluar air asin saja. Tidak lama berselang, kembali lagi kebocoran terjadi, tapi kali ini yang keluar dari Pipa itu Minyak Mentah dan merendam Puluhan Batang Pohon Karet. Akibatnya, sudah dipastikan Produksi Karet ini pasti menurun", sebut Irsan (60) salah seorang Warga Desa Perambatan kepada Wartawan, Senin (30/4/2018).

Selain itu, Irsan juga menambahkan, jika kejadian tersebut bukan pada Satu (1) tempat saja. Namun, ada Lima (5) titik yang mengalami kebocoran. Bahkan dalam waktu sehari, ada Tiga (3) kejadian serupa, Pertama di Simpang Abab 40, Kedua Abab 5, dan Ketiga Abab 7. Sedangkan di Payau Lata dan Dusun Tue terjadi pada bulan lalu, tetapi sampai detik ini, limbah tersebut masih mengapung diatas Permukaan Air.

"Kalau yang ada di Kebun kita, sudah ada upaya Pembersihan dari pihak PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field. Begitu kejadian, Tim Produksi langsung datang dan keesokan harinya dibersihkan. Tapi kalau untuk di beberapa Air Payau itu, sampai kini Limbah Minyak Mentahnya masih tergenang diatas Permukaan Air," ujar Irsan.

Terkait hal ini, Ejeng salah seorang Tokoh Masyarakat setempat sangat menyayangkan pihak Perusahaan Plat Merah tersebut. Seolah - olah tidak memperdulikan Lingkungan sekitar dan terkesan ada pembiaran. Menurutnya, dampak dari Limbah Minyak Mentah tersebut sangat berbahaya, apalagi sempat menggenangi Anak Sungai dan Air Payau, diyakini dapat berpotensi fatal pada kerusakan Ekosistem sekitar

"Kalau begini kejadiannya, saya rasa pihak Pertamina sudah melalaikan tanggung jawabnya. Apalagi sampai berbulan - bulan Minyak itu masih berada diatas air, kemarin memang ada informasi, bahwa Pihak Perusahaan berupaya membersihkan Limbah Minyak Mentah itu dari air, tapi kami menilai tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP)", terang Ejeng. 

Mengapa demikian, lanjut Ejeng, dikarenakan Pihak Perusahaan saat membersihkan Limbah Minyak Mentah tersebut, hanya menggunakan tenaga manual dengan beberapa Personil dari Tim Produksi. Sedangkan Minyak yang tercecer mencemari Lahan Payau, diperkirakan mencapai hampir Satu (1) Hektare dengan jumlah Puluhan Barel Minyak Mentah yang tercecer dan menyebar.

"Sampai sekarang, Limbah Minyak Mentah tersebut, masih tergenang diatas Permukaan Air. Sementara, Pihak Perusahaan membersihkan Limbah tersebut sepertinya sesuka hati. Kadang ada orang yang membersihkan, kadang tidak sama sekali. Kami selaku Tokoh Masyarakat, dalam waktu dekat ini akan melayangkan Surat ke Dinas Lingkungan Hidup", cetus Ejeng.

Disisi lain, Kepala Desa Perambatan Kecamatan Abab Ameriudin mengaku, selama ini masyarakatnya sudah sangat diresahkan oleh Pecahbya Pipa Line PT Pertamina yang kerap terjadi. Dan saat hal itu dilaporkan kepada Pihak Perusahaan, jarang sekali ditindak lanjuti dan berlarut - larut pembersihan Limbah dimaksud tidak juga teratasi.

"Kami selaku Pemerintah Desa menilai Pihak Perusahaan, berlarut - larut menangani persoalan yang ada. Padahal, Warga selalu melaporkan setiap ada kejadian Pipa Pecah. Tapi, hal itu kurang ditanggapi, sehingga Limbah Minyak tetap masih mencemari beberapa Anak Sungai dan Air Payau", ungkapnya.(Anelka)

Tags

Facebook comments

Adsense Google Auto Size